“pengadilan bukan lagi menjadi rumah keadilan, melainkan rumah undang-undang dan prosedur”. (Pizzi : 1999, Spence : 1997) [1]
Hukum dalam Dimensi Sejarah Pertentangan Kelas Sosial
Kelas sosial adalah bentuk utuh dari sistem kemasyarakatan, paling tidak hingga hari ini. Tidak ada maksud dan upaya untuk mengelompokkan masyarakat, namun fakta ini adalah kehendak peradaban (civilization in progress) yang tidak bisa kita bantah kebenarannya.
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Hukum Progresif Dalam Perspektif Kelas Sosial
Minggu, 28 Maret 2010 Time post : 5:15:00 AM
Posted By :
Zoom Magazine
1 Responses
Categories :
Hukum,
Politik,
Sosial
Read more This article Here
Politik Bisnis Pendidikan Nasional
Jumat, 12 Maret 2010 Time post : 9:51:00 AM
Judul diatas, merupakan representasi pandangan subjektif saya terhadap proses graduasi sistem pendidikan nasional Indonesia. Jika pendidikan di zaman kolonial diarahkan untuk membangun dan membebaskan
Posted By :
Zoom Magazine
7
Responses
Categories :
Pendidikan,
Politik,
Sosial
Read more This article Here
Meraba Skenario Pengalihan Isu Rezim
Minggu, 07 Maret 2010 Time post : 8:10:00 PM
Pasca sidang paripurna DPR yang berujung kemenangan opsi C (bail out terjadi pelanggaran), beragam isu timbul tenggelam pada hari-hari berikutnya. Dimulai dari bentrokan mahasiswa vs aparat di Makassar
Posted By :
Zoom Magazine
4
Responses
Categories :
Analisa Kasus,
Politik,
Sosial
Read more This article Here
A Girl Like Me, Diskriminasi Ras Kulit Hitam di Amerika Serikat
Senin, 01 Maret 2010 Time post : 4:06:00 PM
Suatu waktu, saya iseng nonton TV. Kebetulan dapat acara Oprah Winfrey di salah satu station TV Swasta. Acara Oprah ini ditayangkan dengan edisi “Membongkar Ketabuan”. Edisi tersebut menayangkan sebuah Film Dokumenter
Posted By :
Zoom Magazine
5
Responses
Categories :
Kiri Davis,
Seni dan Budaya,
Sosial
Read more This article Here
Mobil Dinas Gubernur Kaltim Rp 1,8 Miliar
Selasa, 02 Februari 2010 Time post : 2:44:00 AM
Tak hanya menteri di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II yang mendapat fasilitas mobil dinas (mobdin) baru, Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltim rupanya juga mendapat mobil dinas baru.
Posted By :
Zoom Magazine
2
Responses
Categories :
Kalimantan Timur,
Politik,
Sosial
Read more This article Here
Blogger,, seni dan media perlawanan
Jumat, 12 Juni 2009 Time post : 11:33:00 AM
Sabtu dini hari, Pukul 02.30 am
"Ayo....jadikan blogger sebagai media perlawanan....!"
Meski referensi dari catatan ini belum sempurna, tapi saya tetap ingin berbagi dengan teman2 semua. Catatan ini adalah pandangan pribadi saya terhadap blog serta fungsinya [terutama mengenai ; bagaimana kita sebagai pengguna blog untuk memposisikan diri alias tau diri]. Kebanyakan orang suka gratisan, tapi terkadang lupa untuk berbagi…, berbagi dalam gagasan dan pikiran, berbagi dalam segala hal. Berpendapat boleh2 aja kan?he…3x.
Mengenal blog dalam kacamata Struktural
Blog merupakan sejenis website yang bersifat personal, memuat opini dan pandangn pribadi dan hal-hal lain yang merupakan aktualisasi atau ajang menunjukkan eksistensi diri bagi pembuatnya. Isi dan pesan, tentu ingin dikabarkan kepada siapa saja dan dimanapun pembacanya berada. Perkembangan blog sungguh sangat luar biasa, bahkan ada yang menyamakannya dengan alamat berbayar seperti dot.com, dll. Salah satunya adalah blog gratisan seperti yg saya gunakan ini, yang akrab ditelinga kita dengan sebutan’ “BloggER”.
Blogger pertama kali ditemukan dan dikembangka oleh sebuah perusahaan kecil di San Fransisco yang bernama Pyra Labs pada bulan Agustus 1999 [sebelum diakuisisi oleh Goole pada tahun 2002]. Kemunculan blogger ini terjadi di tengah-tengah booming-nya dot.com. Tujuan utamanya, kurang lebih sebagai median alternative diluar mainstream teknologi media informasi ber-bayar seperti website. Atau kalau diejawantahkan dalam bahasa kaum papah, kurang lebih, “media bagi kaum tak berpunya ditengah hingar bingarnya kepemilikan kaum kaya”. Bahkan si pembuat blogger juga mengamini pernyataan ini dengan sebuah ungkapan yang menyejukkan hati saya, “………tetapi kami bukan jenis perusahaan yang didanai oleh VC, suka berpesta, dan berhura-hura, ataupun minum bir [Kecuali bir gratis]….”. [dikutip dari sumber, “blogger about”]. Intinya, blogger adalah lawan atau kebalikan dari website berbayar…
Blogger’s ; stylish vs seni
Kebanyakan orang menggunakan blog (blogspot, wordpress, typad, my spice, dll), tidak lebih dari sekedar iseng dan mencari kesenangan browsing di dunia maya. Namun tidak demikian dengan saya secara pribadi!. Blog bagi saya lebih dari sekedar itu, namun juga blog telah menjadi bagian propaganda terhadap informasi yang selama ini terisolasi oleh media mainstream [sangat jarang pemberitaan di media pada umumnya yang cukup detail menyangkut kepentingan rakyat miskin, namun lebih dominan berita celebrity, elit politik dan ekonomi kelas atas]. Blog juga menjadi media untuk berekspresi dan menuangkan gagasan yg selama ini cenderung tidak mendapatkan ruang di medan social karena factor tertentu. Misalnya saja ; budaya feudal atau patronase, yang merupakan suatu karakter budaya yang lebih menghargai [bahkan terkadang dianggap menjadi kebenaran mutlak], dari mereka yang lebih tua, senior ataupun yang lebih berduit. “Yang tua, yang lebih dipercaya”, demikian bunyi pesan dalam iklan rokok sampoerna yang turut menyindir kejamnya karakter budaya feudal ini.
Kecenderungan masyarakat kita memang masih terbawa karakter budaya “jadul” ini. Bahkan tidak sedikit hal penting yang terdirtorsi [pengaburan fakta], yang sampai ditelingan dan padangan mereka. Banyak hal yang harusnya jika dilaksanakan akan memberikan hal positif, justru malah terbalik dikarenakan pengaburan fakta sejarah. Sebut saja music, yg tentu menjadi konsumsi semua orang dari anak kecil hingga yg sudah uzur sekalipun. Coba bayangkan, berapa banyak dari mereka yg betul2 paham mengani pesan lagu atu paling tidak untuk apa jenis lagu itu lahir?. Sangat sedikit!!!. Sebut saja “Punk”, yg banyak digandrungi oleh anak2 muda kita. Tapi sangat disayangkan, mereka memahami muzik punk ini hanya sekedar style atau gaya simbolik saya seperti rambuk mohak, rantai leher anjing, atau gelang berduri [saya lebih senang menyebutnya sebagai ‘Punk Mall”]. Padahal sesungguhnya [dilihat dari aspek sejarahnya], gaya rambut mohak, rantai anjing, dll adalah simbolisasi perlawanan dari ketertindasan orang Indian terhadap kolonialisasi eropa. Lihat saja group-goup band pencetus muzik punk [the clash, sex pistol’s, dll], dalam setiap lirik dan bait lagunya, selalu mengandung kritikan social yang tajam, meski terkadang menggugat tuhan.
Dengan demikian, pesan penting yang ingin saya sampaikan adalah, jadilah blogger’s sejati yang tidak hanya memiliki blog untuk kepentingan pribadi, namun juga harus bermakna social, yakni ; minimal menyelipkan pesan-pesan social terhadap realitas hidup kaum miskin yang selama ini terkekang dan tertindas oleh system ekonomi dan politik yang seakan membunuh mereka secara perlahan.
Blog ; media perjuangan
“Corong publikasi pikiran dan gagasan”, demikian header blog saya ini [promosi nih yeee….he…3x]. Paling tidak, dengan apa yang saya mampu dan miliki sekarang, dapat sedikit mendedikasikan pikiran saya terhadap fenomena social masyarakat kita hari ini. Blog saya ini bukan untuk gaya-gayaan atau mencari popularitas [meski juga butuh desain yang menyegarkan mata….he…3x], namun lebih penting yakni untuk membangun jejaring informasi social serta perdebatan terkait isu-isu menyangkut nasib masyarakat kita hari ini yang kian memilukan [kemsikinan, pengangguran, harga-harga kebutuhan pokok yg melambung tinggi, pendapatan kecil, biaya obat dan kesehatan yang mahal, sekolah hingga jenjang tinggi yang sekedar mimpi, dll].
Tulisan singkat ini sekali lagi ingin menegaskan dan megajak para blogger’s untuk sedikit meluangkan waktu untuk menyisipkan sedikit pesan social yang mengandung makna positif bagi kepentingan masyarakat miskin dimanapun berada. Ayo…..jadikan blogger sebagai medan pertempuran kita dengan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan…
"Ayo....jadikan blogger sebagai media perlawanan....!"
Meski referensi dari catatan ini belum sempurna, tapi saya tetap ingin berbagi dengan teman2 semua. Catatan ini adalah pandangan pribadi saya terhadap blog serta fungsinya [terutama mengenai ; bagaimana kita sebagai pengguna blog untuk memposisikan diri alias tau diri]. Kebanyakan orang suka gratisan, tapi terkadang lupa untuk berbagi…, berbagi dalam gagasan dan pikiran, berbagi dalam segala hal. Berpendapat boleh2 aja kan?he…3x.
Mengenal blog dalam kacamata Struktural
Blog merupakan sejenis website yang bersifat personal, memuat opini dan pandangn pribadi dan hal-hal lain yang merupakan aktualisasi atau ajang menunjukkan eksistensi diri bagi pembuatnya. Isi dan pesan, tentu ingin dikabarkan kepada siapa saja dan dimanapun pembacanya berada. Perkembangan blog sungguh sangat luar biasa, bahkan ada yang menyamakannya dengan alamat berbayar seperti dot.com, dll. Salah satunya adalah blog gratisan seperti yg saya gunakan ini, yang akrab ditelinga kita dengan sebutan’ “BloggER”.
Blogger pertama kali ditemukan dan dikembangka oleh sebuah perusahaan kecil di San Fransisco yang bernama Pyra Labs pada bulan Agustus 1999 [sebelum diakuisisi oleh Goole pada tahun 2002]. Kemunculan blogger ini terjadi di tengah-tengah booming-nya dot.com. Tujuan utamanya, kurang lebih sebagai median alternative diluar mainstream teknologi media informasi ber-bayar seperti website. Atau kalau diejawantahkan dalam bahasa kaum papah, kurang lebih, “media bagi kaum tak berpunya ditengah hingar bingarnya kepemilikan kaum kaya”. Bahkan si pembuat blogger juga mengamini pernyataan ini dengan sebuah ungkapan yang menyejukkan hati saya, “………tetapi kami bukan jenis perusahaan yang didanai oleh VC, suka berpesta, dan berhura-hura, ataupun minum bir [Kecuali bir gratis]….”. [dikutip dari sumber, “blogger about”]. Intinya, blogger adalah lawan atau kebalikan dari website berbayar…
Blogger’s ; stylish vs seni
Kebanyakan orang menggunakan blog (blogspot, wordpress, typad, my spice, dll), tidak lebih dari sekedar iseng dan mencari kesenangan browsing di dunia maya. Namun tidak demikian dengan saya secara pribadi!. Blog bagi saya lebih dari sekedar itu, namun juga blog telah menjadi bagian propaganda terhadap informasi yang selama ini terisolasi oleh media mainstream [sangat jarang pemberitaan di media pada umumnya yang cukup detail menyangkut kepentingan rakyat miskin, namun lebih dominan berita celebrity, elit politik dan ekonomi kelas atas]. Blog juga menjadi media untuk berekspresi dan menuangkan gagasan yg selama ini cenderung tidak mendapatkan ruang di medan social karena factor tertentu. Misalnya saja ; budaya feudal atau patronase, yang merupakan suatu karakter budaya yang lebih menghargai [bahkan terkadang dianggap menjadi kebenaran mutlak], dari mereka yang lebih tua, senior ataupun yang lebih berduit. “Yang tua, yang lebih dipercaya”, demikian bunyi pesan dalam iklan rokok sampoerna yang turut menyindir kejamnya karakter budaya feudal ini.
Kecenderungan masyarakat kita memang masih terbawa karakter budaya “jadul” ini. Bahkan tidak sedikit hal penting yang terdirtorsi [pengaburan fakta], yang sampai ditelingan dan padangan mereka. Banyak hal yang harusnya jika dilaksanakan akan memberikan hal positif, justru malah terbalik dikarenakan pengaburan fakta sejarah. Sebut saja music, yg tentu menjadi konsumsi semua orang dari anak kecil hingga yg sudah uzur sekalipun. Coba bayangkan, berapa banyak dari mereka yg betul2 paham mengani pesan lagu atu paling tidak untuk apa jenis lagu itu lahir?. Sangat sedikit!!!. Sebut saja “Punk”, yg banyak digandrungi oleh anak2 muda kita. Tapi sangat disayangkan, mereka memahami muzik punk ini hanya sekedar style atau gaya simbolik saya seperti rambuk mohak, rantai leher anjing, atau gelang berduri [saya lebih senang menyebutnya sebagai ‘Punk Mall”]. Padahal sesungguhnya [dilihat dari aspek sejarahnya], gaya rambut mohak, rantai anjing, dll adalah simbolisasi perlawanan dari ketertindasan orang Indian terhadap kolonialisasi eropa. Lihat saja group-goup band pencetus muzik punk [the clash, sex pistol’s, dll], dalam setiap lirik dan bait lagunya, selalu mengandung kritikan social yang tajam, meski terkadang menggugat tuhan.
Dengan demikian, pesan penting yang ingin saya sampaikan adalah, jadilah blogger’s sejati yang tidak hanya memiliki blog untuk kepentingan pribadi, namun juga harus bermakna social, yakni ; minimal menyelipkan pesan-pesan social terhadap realitas hidup kaum miskin yang selama ini terkekang dan tertindas oleh system ekonomi dan politik yang seakan membunuh mereka secara perlahan.
Blog ; media perjuangan
“Corong publikasi pikiran dan gagasan”, demikian header blog saya ini [promosi nih yeee….he…3x]. Paling tidak, dengan apa yang saya mampu dan miliki sekarang, dapat sedikit mendedikasikan pikiran saya terhadap fenomena social masyarakat kita hari ini. Blog saya ini bukan untuk gaya-gayaan atau mencari popularitas [meski juga butuh desain yang menyegarkan mata….he…3x], namun lebih penting yakni untuk membangun jejaring informasi social serta perdebatan terkait isu-isu menyangkut nasib masyarakat kita hari ini yang kian memilukan [kemsikinan, pengangguran, harga-harga kebutuhan pokok yg melambung tinggi, pendapatan kecil, biaya obat dan kesehatan yang mahal, sekolah hingga jenjang tinggi yang sekedar mimpi, dll].
Tulisan singkat ini sekali lagi ingin menegaskan dan megajak para blogger’s untuk sedikit meluangkan waktu untuk menyisipkan sedikit pesan social yang mengandung makna positif bagi kepentingan masyarakat miskin dimanapun berada. Ayo…..jadikan blogger sebagai medan pertempuran kita dengan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan…
Dibalik merebaknya aliran sesat
Jumat, 09 November 2007 Time post : 9:54:00 AM
(Tulisan ini sebelumnya dimuat di harian Tribunkaltim)
Berita yang menggemparkan masyarakat Indonesia kembali terdengar dihampir seluruh pelosok-pelosok negeri. Terungkapnya sebuah aliran kepercayaan yang telah difatwakan oleh Majelis Ulama Indoensia (MUI), sebagai aliran sesat yang menistakan agama, menjadi topic perbincangan hangat dimana-mana. Aliran keyakinan Al Qiyadah Al Islamiah pimpinan Ahmad Moshaddeq, merupakan kelompok yang paling paling populer dan dicari-cari saat ini. Tindakan pengucilan, pengusiran, serta pemberedelanpun dilakukan oleh kelompok-kelompok fundamentalis terhadap mereka yang diduga pengikut dari aliran kelompok Al Qiyadah Al Islamiah ini. Sepintas, kejadian serupa pernah dialami oleh aliran Ahmadiyah pada tahun 2002/2003 lalu serta kelompok Kerajaan Tuhan yang dipimpin oleh Lia Eden pada tahun 2005.
Kejadian ini mengingatkan kita pada zaman pertengahan sekitar abad 16 dimana orang-orang yang dianggap menyebarkan kesesatan ilmu sihir akan diburu ibaratkan binatang buruan di hutan belantara. Gejalan ini diistilah sebagai perburuan tukang sihir (Witch Hunt). Perlakuan sama yang dialami oleh aliran-aliran kepercayaan yang dianggap sesat di Indonesia, jelas semakin mengarahkan pandangan dan pemikiran masyarakat yang menyaksikannya, semakin sempit ke dalam bingkai pola pikir yang irasional dan tidak ilmiah. Masyarakat secara tersirat, dididik, dilatih dan diajarkan untuk memaknai perbedaan semagai sesuatu yang tidak wajar. Perbedaan dipahami sebagai musuh dalam kehidupan. Untuk itu, siapapun individu maupun kelompok yang mencoba meyakini suatu ajaran di luar konteks keyakinan yang diakui oleh lembaga-lembaga Negara dan keagamaan, maka halal darahnya untuk ditumpahkan. Pandangan ini bukan tanpa dasar yang kuat, namun kita butuh analisa lebih komprehensif dan mendalam, lebih dari sekedar alasan penistaan agama. Lantas, apa yang mendasari aliran-aliran yang dianggap sesat ini muncul dan berkembang bak jamur dengan pengikut yang tidak sedikit? Dan bagaimana pula kita harus bersikap dan menghadapi fenomena ini?
Ada beberapa variable yang mengakibatkan semakin berkembangnya aliran-aliran kepercayaan baru di luar mainstream keyakinan yang ada, yakni :
1. Faktor Ekonomi dan Kondisi Hidup
Situasi Negara kita telah menciptakan pusaran kemiskinan serta keterbelakangan dimana-mana. Masyarakat dipaksa untuk hidup seadanya, meski dengan kondisi yang penuh keterbatasan. Sementara disisi lain, terdapat sebahagian orang yang tetap berdiri tegar di atas kemewahannya. Ini tentunya akan memberikan stigma negative dalam masyarakat kita. Masyarakat yang berada pada titik kejenuhan dan kebosanan terhadap kondisi kehidupannya, terkesan akan mencari tempat pelarian untuk merenungi nasib dan masa depannya. Kalau boleh disebut sebagai “Penghibur Jiwa Yang Resah” dalam konteks spiritual. Fenomena merebaknya aliran kepercayaan baru, seperti Al Qiyadah Al Islamiah, juga dilatar belakangi oleh kondisi ekonomi masyarakat. Siapa yang tidak tergiur dengan kemewahan yang ditawarkan oleh keyakinan baru ini? Coba saja kita perhatikan, setiap pertemuan-pertemuan yang mereka lakukan, pasti selalu diadakan di tempat-tempat mewah dan berkelas. Maka tidak mengherankan ketika orang-orang berbondong-bondong berdatangan hanya demi mengecap kemewahan yang tersedia lengkap dengan setelan jas dan dasi yang menyerupai pejabat.
2. Tekanan Sosial dan Budaya Trendy
Rasa terkucilkan dalam lingkungan social, juga menjadi salah satu hal yang menyebabkan trend aliran kepercayaan baru ini muncul dan berkembang. Ungkapan sederhana yang mengatakan, “Mencari sesuatu yang bebeda dan lain daripada yang lain, adalah bentuk keberhasilan pencaran jati diri seseorang”. Ungkapan ini mengingatkan kita dengan kecenderungan anak-anak muda negeri ini yang selalu berhasrat untuk mencoba dan melakukan hal-hal yang dinilai baru. Hal yang tak lazim-pun (tak peduli benar-salah atau baik-buruknya), dianggap sebagai sesuatu yang trendy, menarik, unik serta menggairahkan jiwa muda mereka tentunya. Hal ini sesuai dengan fakta yang terjadi dalam fenomena aliran baru yang mucul hari ini. Seperti yang dikatakan oleh pimpinan Al Qiyadah Al Islamiah, Ahmad Mosaddeq dalam satu petikan wawancaranya, yang mengklaim bahwa, 60 persen dari pengikutnya adalah pemuda dari kalangan mahasiswa. Ini membuktikan bahwa tekanan social serta tren, “Meraba Dan Mencari-Cari Sesuatu Yang Unik”, masih begitu melekat dalam pemikiran serta pemahaman sebahagian besar kalangan muda di Indonesia.
3. Mistifikasi Pengetahuan.
Dominan masyarakat Indonesia memang masih meletakkan kesadarannyanya dalam landasan pengetahuan tradisional. Hal ini menyebabkan pola pikir masyarakat kita lebih bergantung kepada kebiasaan leluhurnya, bukan dari tradisi pengetahuan ilmiah. Walhasil, masyarakatpun begitu labil untuk terjerat tipu daya oleh ucapan seseorang, terlebih dari seorang petapa spiritual yang telah melewati 40 hari, 40 malam di kaki Gunung Salak Endah, pamijahan Kabupaten Bogor, seperti Ahmad Mosaddeq. Bahkan Nampak mereka melakukan pem-Baiat-an dengan hati bangga dan senang tanpa ragu sedikitpun.
Jika ada cemooh dari masyarakat yang mengatakan bahwa ajaran Ahmad Moaddeq adalah ajaran yang sesat, mengada-ada dan sama sekali tidak mampu diterima akal sehat, lantas mengapa juga begitu banyak (hingga puluhan ribu orang) pengikut Mosaddeq yang bahkan telah tersebar dibeberapa wilayah di Indonesia???. Inilah yang menjadi buah dari mistifikasi pengetahuan masyarakat. Sehingga pedoman bertindak dalam kerangka ilmiah menjadi terlupakan, tertelan dan termakan oleh budaya mistik yang sengaja dipertahankan oleh mereka yang berkepentingan.
4. Tidak maksimalnya Metodelogi Pencerahan
Bentuk pencerahan dapat dilakukan melalui cara dan media apa saja. Dalam dunia Islam kita mengenal istilah “Dak’wah”, yakni metode pencerahan ummat yang bertujuan untuk mengajarkan pemahaman ke-Islaman berdasarkan Syariat (hukum-hukum Islam) bagi mereka yang berkeyakinan. Namun dalam realitas social, terkadang media pencerahan yang digunakan cenderung membuat masyarakat semakin teguh dengan keyakinannya. Malah semakin menjadikan masyarakat takut dengan aturan. Media visual melalui televise misalnya, tayangan sinetron-sinetron yang berbasis religious relative cenderung memberikan stigma negative terhadap agama. Agama terkesan dijadikan stereotip dari monster ganas, besar dan menakutkan yang setiap saat siap merajam mereka yang tidak menjalankan aturan dengan baik. Hal tersebut juga merupakan salah satu alasan bagi mereka yang meninggalkan kepercayaan dan keyakinan mereka sendiri.
5. Dekadensi Moral
Semakin rendahnya moralitas manusia, membawa mereka kepada kecenderungan untuk mencari suatu kewajiban hidup yang dianggap lebih mudah, tidak memaksa dan relative tidak memberatkan. Jika kita menyimak dengan seksama, maka kita akan menemukan fakta bahwa hampir semua aliran-aliran kepercayaan baru yang muncul, menerapkan pola kewajiban ibadahnya dengan syarat yang lebih mudah. Hal ini sama dengan fenomena aliran Al Qiyadah Al Islamiah, dimana kelompok ini tidak mengaharuskan pengikutnya untuk sholat, puasa dan haji. Bukankah hal tersebut sangat mudah dan sederhana?. Sungguh suatu keadaan yang menggoda iman dan keyakinan bagi mereka yang memiliki akhlak yang keropos dan lemah.
Untuk menghadapi fenomena berkembangnya aliran-aliran kepercayaan baru dalam masyarakat, kita tidak harus menanggapinya secara emosional dan reaktif dengan prasangka-prasangka yang tak berdasar (tanpa melihat akar permasalahan) yang ada. Kita seharusnya lebih arif dan bijaksana dalam menyelesaikan masalah. Kekerasan, terror, acaman serta pengucilan, bukanlah jalan keluar yang baik. Menghancurkan, bahkan membunuh mereka yang dianggap sesat, tanpa memperbaiki kondisi kesemrawutan bangsa kita dari segala aspek, hanya akan melahirkan kesesatan baru yang mungkin jauh lebih berbahaya.
Bontang, 1 November 2007
Berita yang menggemparkan masyarakat Indonesia kembali terdengar dihampir seluruh pelosok-pelosok negeri. Terungkapnya sebuah aliran kepercayaan yang telah difatwakan oleh Majelis Ulama Indoensia (MUI), sebagai aliran sesat yang menistakan agama, menjadi topic perbincangan hangat dimana-mana. Aliran keyakinan Al Qiyadah Al Islamiah pimpinan Ahmad Moshaddeq, merupakan kelompok yang paling paling populer dan dicari-cari saat ini. Tindakan pengucilan, pengusiran, serta pemberedelanpun dilakukan oleh kelompok-kelompok fundamentalis terhadap mereka yang diduga pengikut dari aliran kelompok Al Qiyadah Al Islamiah ini. Sepintas, kejadian serupa pernah dialami oleh aliran Ahmadiyah pada tahun 2002/2003 lalu serta kelompok Kerajaan Tuhan yang dipimpin oleh Lia Eden pada tahun 2005.
Kejadian ini mengingatkan kita pada zaman pertengahan sekitar abad 16 dimana orang-orang yang dianggap menyebarkan kesesatan ilmu sihir akan diburu ibaratkan binatang buruan di hutan belantara. Gejalan ini diistilah sebagai perburuan tukang sihir (Witch Hunt). Perlakuan sama yang dialami oleh aliran-aliran kepercayaan yang dianggap sesat di Indonesia, jelas semakin mengarahkan pandangan dan pemikiran masyarakat yang menyaksikannya, semakin sempit ke dalam bingkai pola pikir yang irasional dan tidak ilmiah. Masyarakat secara tersirat, dididik, dilatih dan diajarkan untuk memaknai perbedaan semagai sesuatu yang tidak wajar. Perbedaan dipahami sebagai musuh dalam kehidupan. Untuk itu, siapapun individu maupun kelompok yang mencoba meyakini suatu ajaran di luar konteks keyakinan yang diakui oleh lembaga-lembaga Negara dan keagamaan, maka halal darahnya untuk ditumpahkan. Pandangan ini bukan tanpa dasar yang kuat, namun kita butuh analisa lebih komprehensif dan mendalam, lebih dari sekedar alasan penistaan agama. Lantas, apa yang mendasari aliran-aliran yang dianggap sesat ini muncul dan berkembang bak jamur dengan pengikut yang tidak sedikit? Dan bagaimana pula kita harus bersikap dan menghadapi fenomena ini?
Ada beberapa variable yang mengakibatkan semakin berkembangnya aliran-aliran kepercayaan baru di luar mainstream keyakinan yang ada, yakni :
1. Faktor Ekonomi dan Kondisi Hidup
Situasi Negara kita telah menciptakan pusaran kemiskinan serta keterbelakangan dimana-mana. Masyarakat dipaksa untuk hidup seadanya, meski dengan kondisi yang penuh keterbatasan. Sementara disisi lain, terdapat sebahagian orang yang tetap berdiri tegar di atas kemewahannya. Ini tentunya akan memberikan stigma negative dalam masyarakat kita. Masyarakat yang berada pada titik kejenuhan dan kebosanan terhadap kondisi kehidupannya, terkesan akan mencari tempat pelarian untuk merenungi nasib dan masa depannya. Kalau boleh disebut sebagai “Penghibur Jiwa Yang Resah” dalam konteks spiritual. Fenomena merebaknya aliran kepercayaan baru, seperti Al Qiyadah Al Islamiah, juga dilatar belakangi oleh kondisi ekonomi masyarakat. Siapa yang tidak tergiur dengan kemewahan yang ditawarkan oleh keyakinan baru ini? Coba saja kita perhatikan, setiap pertemuan-pertemuan yang mereka lakukan, pasti selalu diadakan di tempat-tempat mewah dan berkelas. Maka tidak mengherankan ketika orang-orang berbondong-bondong berdatangan hanya demi mengecap kemewahan yang tersedia lengkap dengan setelan jas dan dasi yang menyerupai pejabat.
2. Tekanan Sosial dan Budaya Trendy
Rasa terkucilkan dalam lingkungan social, juga menjadi salah satu hal yang menyebabkan trend aliran kepercayaan baru ini muncul dan berkembang. Ungkapan sederhana yang mengatakan, “Mencari sesuatu yang bebeda dan lain daripada yang lain, adalah bentuk keberhasilan pencaran jati diri seseorang”. Ungkapan ini mengingatkan kita dengan kecenderungan anak-anak muda negeri ini yang selalu berhasrat untuk mencoba dan melakukan hal-hal yang dinilai baru. Hal yang tak lazim-pun (tak peduli benar-salah atau baik-buruknya), dianggap sebagai sesuatu yang trendy, menarik, unik serta menggairahkan jiwa muda mereka tentunya. Hal ini sesuai dengan fakta yang terjadi dalam fenomena aliran baru yang mucul hari ini. Seperti yang dikatakan oleh pimpinan Al Qiyadah Al Islamiah, Ahmad Mosaddeq dalam satu petikan wawancaranya, yang mengklaim bahwa, 60 persen dari pengikutnya adalah pemuda dari kalangan mahasiswa. Ini membuktikan bahwa tekanan social serta tren, “Meraba Dan Mencari-Cari Sesuatu Yang Unik”, masih begitu melekat dalam pemikiran serta pemahaman sebahagian besar kalangan muda di Indonesia.
3. Mistifikasi Pengetahuan.
Dominan masyarakat Indonesia memang masih meletakkan kesadarannyanya dalam landasan pengetahuan tradisional. Hal ini menyebabkan pola pikir masyarakat kita lebih bergantung kepada kebiasaan leluhurnya, bukan dari tradisi pengetahuan ilmiah. Walhasil, masyarakatpun begitu labil untuk terjerat tipu daya oleh ucapan seseorang, terlebih dari seorang petapa spiritual yang telah melewati 40 hari, 40 malam di kaki Gunung Salak Endah, pamijahan Kabupaten Bogor, seperti Ahmad Mosaddeq. Bahkan Nampak mereka melakukan pem-Baiat-an dengan hati bangga dan senang tanpa ragu sedikitpun.
Jika ada cemooh dari masyarakat yang mengatakan bahwa ajaran Ahmad Moaddeq adalah ajaran yang sesat, mengada-ada dan sama sekali tidak mampu diterima akal sehat, lantas mengapa juga begitu banyak (hingga puluhan ribu orang) pengikut Mosaddeq yang bahkan telah tersebar dibeberapa wilayah di Indonesia???. Inilah yang menjadi buah dari mistifikasi pengetahuan masyarakat. Sehingga pedoman bertindak dalam kerangka ilmiah menjadi terlupakan, tertelan dan termakan oleh budaya mistik yang sengaja dipertahankan oleh mereka yang berkepentingan.
4. Tidak maksimalnya Metodelogi Pencerahan
Bentuk pencerahan dapat dilakukan melalui cara dan media apa saja. Dalam dunia Islam kita mengenal istilah “Dak’wah”, yakni metode pencerahan ummat yang bertujuan untuk mengajarkan pemahaman ke-Islaman berdasarkan Syariat (hukum-hukum Islam) bagi mereka yang berkeyakinan. Namun dalam realitas social, terkadang media pencerahan yang digunakan cenderung membuat masyarakat semakin teguh dengan keyakinannya. Malah semakin menjadikan masyarakat takut dengan aturan. Media visual melalui televise misalnya, tayangan sinetron-sinetron yang berbasis religious relative cenderung memberikan stigma negative terhadap agama. Agama terkesan dijadikan stereotip dari monster ganas, besar dan menakutkan yang setiap saat siap merajam mereka yang tidak menjalankan aturan dengan baik. Hal tersebut juga merupakan salah satu alasan bagi mereka yang meninggalkan kepercayaan dan keyakinan mereka sendiri.
5. Dekadensi Moral
Semakin rendahnya moralitas manusia, membawa mereka kepada kecenderungan untuk mencari suatu kewajiban hidup yang dianggap lebih mudah, tidak memaksa dan relative tidak memberatkan. Jika kita menyimak dengan seksama, maka kita akan menemukan fakta bahwa hampir semua aliran-aliran kepercayaan baru yang muncul, menerapkan pola kewajiban ibadahnya dengan syarat yang lebih mudah. Hal ini sama dengan fenomena aliran Al Qiyadah Al Islamiah, dimana kelompok ini tidak mengaharuskan pengikutnya untuk sholat, puasa dan haji. Bukankah hal tersebut sangat mudah dan sederhana?. Sungguh suatu keadaan yang menggoda iman dan keyakinan bagi mereka yang memiliki akhlak yang keropos dan lemah.
Untuk menghadapi fenomena berkembangnya aliran-aliran kepercayaan baru dalam masyarakat, kita tidak harus menanggapinya secara emosional dan reaktif dengan prasangka-prasangka yang tak berdasar (tanpa melihat akar permasalahan) yang ada. Kita seharusnya lebih arif dan bijaksana dalam menyelesaikan masalah. Kekerasan, terror, acaman serta pengucilan, bukanlah jalan keluar yang baik. Menghancurkan, bahkan membunuh mereka yang dianggap sesat, tanpa memperbaiki kondisi kesemrawutan bangsa kita dari segala aspek, hanya akan melahirkan kesesatan baru yang mungkin jauh lebih berbahaya.
Bontang, 1 November 2007
Langganan:
Postingan (Atom)




