Masihkah kita takut dan menjauhi Sosialisme?

Kamis, 24 September 2009

Politik - Selama 42 tahun sistem politik otoritarian Orde Baru berdiri kokoh (sebelum tumbang melalui gerakan ekstraparlementer rakyat dan mahasiswa), ternyata masih menyimpang PR lama yang tak kunjung usai. Tulisan pendek ini hanya ingin sekedar mengingatkan kembali PR lama itu bagi Anda yang perduli. Wajah takut, jijik, angker dan lainnya, nampak begitu tajam diwajah masyarakat Indonesia selama berpuluh-puluh tahun ketiga mendengar kata sosialisme, komunisme, marx, lenin dan lainnya. Namun kini, sosialime yang kian meluas sebagai sistem alternatif ekonomi dan politik di berbagai belahan dunia, seharusnya mampu membalikkan wajah takut itu menjadi wajah yang penuh dengan keyakinan akan kehidupan yang lebih sejahtera, humanis dan berkeadilan.

Sosialisme dalam perjalanan sejarah Bangsa Indonesia
Kita tahu bahwa Orde Baru dibangun dari ratusan ribu bahkan jutaan mayat manusia yang dicap PKI yang berhaluan kiri, komunis, sosialisme dll. Mereka tidak pernah terbukti bersalah secara hukum dan mengalami traumatik berkepanjangan, bahkan hingga hari ini. Mereka dan anak-anak mereka bahkan harus terbuang dari ruang social yang menjadikan mereka terbatasi dalam segala hal, pekerjaan, pendidikan, ibadah, hingga komunikasipun menjadi terasa sulit dan berat.

Anda mungkin pernah mengenal atau paling tidak mendengar istilah komunisme atau sosialisme?. Dan bisa dipastikan sebagian besar dari Anda akan merasa takut bahkan jijik dengan istilah ini. Inilah salah satu keberhasilan propaganda dan doktrin Orde Baru yang menjadikan otak masyarakat beku dengan hanya termakan kepatuhan semu terhadap penguasa tanpa harus menggunakan pikiran untuk mencerna realita yang ada. Sosialisme dan konunisme dalam sejarah perjalanan Bangsa kita, selalu dipersonafikasikan kepada Partai Komunis Indonesia (PKI). Lantas benarkah PKI dan ajaran sosialisme sejelek dengan apa yang kita dengar dari penguasa? Dan bagaimana kita menjawab realita kemakmuran Negara-negara Amerika Latin (Venezuela, Cuba, Bolivia, dll) di bawah system “sosialisme” yang katanya jelek itu?

Ajaran sosialisme yang bahkan dilarang melalui TAP MPRS/25/1966 hingga kini, harus kita akui menjadi spirit dalam upaya perjuangan kemerdekaan Bangsa kita. Coba Anda buka catatan sejarah, “golongan” mana yang paling banyak disiksa, dibuang dan diasingkan ke camp-camp penyiksaan? Golongan komunis jawabannya. Golongan mana yang paling banyak terbunuh dan harus meninggallkan keluarga akibat keberaniaanyya mengatakan tidak terhadap penjajahan dan kolonialisme?. Golongan komunis jawabannya. Bahkan suatu ketika Soekarno dalam pidato politik dihadapan Front Nasional, 6 bulan setelah peristiwa September berdarah, menegaskan kontribusi penting dari kaum komunis ini.

Berikut kutipan pidato Soekarno sebagai bentuk ekspresi politiknya dalam memandang PKI dan tokoh-tokoh komunis yang begitu besar pengorbanannya sebagai garda terdepan dalam revolusi kemerdekaan Indonesia :
Demikian pula aku tidak akan mau menutup mata bahwa golongan Kom, masya Allah, Saudara-saudara, urunannya, sumbangannya, bahkan korbannya untuk kemerdekaan bukan main besarnya. Bukan main besarnya !

Karena itu, kadang-kadang sebagai Kepala Negara saya bisa akui, kalau ada orang berkata, Kom itu tidak ada jasanya dalam perjuangan kemerdekaan, aku telah berkata pula berulang-ulang, malahan di hadapan partai-partai yang lain, di hadapan parpol yang lain, dan aku berkata, barangkali di antara semua parpol-parpol, di antara semua parpol-parpol, ya baik dari Nas maupun dari A tidak ada yang telah begitu besar korbannya untuk kemerdekaan Indonesia daripada golongan Kom ini, katakanlah PKI, Saudara-saudara.

Saya pernah mengalami. Saya sendiri lho mengalami, Saudara-saudara, mengantar 2000 pemimpin PKI dikirim oleh Belanda ke Boven Digul. Hayo, partai lain mana ada sampai ada 2000 pimpinannya sekaligus diinternir, tidak ada. Saya pernah sendiri mengalami dan melihat dengan mata kepala sendiri, pada satu saat 10 000 pimpinan daripada PKI dimasukkan di dalam penjara. Dan menderita dan meringkuk di dalam penjara yang bertahun-tahun.

(Sumber : Umar Said. Kutipan ini diambil dari Buku “Revolusi Belum Selesai”.)

Sosialime dan perjuangan kemerdekaan Internasional
The map is changing, demikian salah satu kalimat pendek dari mantan Presiden Cuba, Fidel Castro. Ungkapan ini merupakan bentuk perlawanan terhadap imperium Amerika Serikat yang selama berpuluh-puluh tahun mendikte Negara dunia ketiga serta mendominasi dan memonopoli lalu lintas kebijakan global dalam semua bidang, ekonomi, politik, budaya, dll. Lihat saja bagaimana perlakuan terhadap Afganistan, Irak serta “Palestina”. Namun semuanya sudah mulai bergeser. Negara-negara dibelahan dunia, khususnya Amerika Latin telah mulai menyadari bahwa kita bias mandiri dan Kebijakan Neo-liberal (baca : kapitalisme) ala Imperium Amerika, hanya membawa kesengsaraan bagi ummat manusia.

Sosialisme internasional telah mulai bangkit, dan merubah perwajahan dunia dengan memberikan alternative sistem ekonomi, sosial dan politik. Ada beberapa fakta singkat yang menarik untuk kita kaji secara seksama. Secara politik, ketika Paltestina dibombardir oleh Israel, siapa Negara yang paling pertama bertindak tegas untuk mengusir duta besar Israel dari Negaranya? Venezule, Bolivia dan Cuba. Sikap untuk mengusir duta besar Israel tersebut adalah bagian dari protes keras sekaligus symbol perlawanan terhadap imperialism global di bawah kendali Amerika Serikat. Secara ekonomi, ketika krisis global melanda dunia yang dimulai dari krisis keuangan di AS, Negara-negara mana yang tidak secara signifikan terkena pengaruh dari krisis tersebut?. Jawabannya adalah Negara-negara Amerika latin yang memegang teguh prinsip Sosialisme, Venezuela, Cuba, Bolivia, dll. Secara social, ketika amuk alam melanda dimana-mana, badai Katrina misalnya yang menelan banyak korban jiwa. Siapa tim medis yang paling tanggap untuk memberikan bantuan? Cuba jawabannya.

Dari situasi diatas, saya sekali lagi ingin menegaskan kepada masyarakat Indonesia, masihkah kita takut dengan Sosialisme?. Masihkah kita enggan menjadikannya sebagai solusi alternative ditengah kegagalan kapitalisme melalui trend Neo-liberalismenya yang menyengsarakan rakyat?. Posisi penulis bukan ingin melakukan pembelaan terhadap sosialisme, sebab sistem sosialisme tidak harus dibela, namun fakta dan realita telah menunjukkan kepada dunia bahwa sosialisme adalah jalan kemakmuran bagi ummat manusia dimanapun.

Tulisan ini sebelumnya di muat di : Kompasiana.com

13 komentar:

jaloee mengatakan...

wow tulisanna berat euy.. sosialisme yes komunis no. but kenapa kita tidak memperjuangkan nya lewat islam kiri.. lebih aman religius sosialis :D

Herdiansyah Hamzah mengatakan...

@ Kang jaloee : sepakat kang, komunis dan sosialisme pada awalnya juga dikembangkan oleh kyai-kyai hebat di zaman kolonial. Tokoh-tokoh seperti H. Misbach, Tan Malaka, dll tidak perlu lagi diragukan keislamannya. Sy hanya menulis artikel ini untuk membuka mata saya akan fenomena sosialisme di Amerika latin yg lagi berkembang kang...

JALOE mengatakan...

yup setuju.. seperti di amerika latin kalau ngga salah di amerika latin yg pertama berkembang itu adalah teologi pembebasan (agama kristen )..

Herdiansyah Hamzah mengatakan...

@ Kang Jaloee : iya, bener kang. Teologi pembebasan memang berkembang dan mengilhami gerakan rakyat di Amerika Latin, terutama pastor-pastor yang berpikiran maju disana. Tapi sayang, di Negara kita gagal menggabungkan antara semangat spiritual dengan jiwa sosial. Saya pikir penting untuk kita tanamkan di generasi muda kita hari ini....

Seno Rasca mengatakan...

that's my Indonesia. dulu pemikiran akan golongan sngt sensitif, sekarang lebih sensitif lagi didukung dengan tingkat kemiskinan yang smakin tinggi. Tp aku yakin ada hikmah yang baik dari kejadian tempo doeloe. boleh tidak suka dengan ajarannya (komunis) tapi jangan musuhi orangnya, tetep piss....

Herdiansyah Hamzah mengatakan...

@ Seno Rasca : Bener banget, kemiskinan memang menjadi bola api bagi lahirnya sosialisme, dan ini adalah anti-tesa dari kaptilisme yang selama ini hanya menyengsarakan rakyat. Soal, sikap toleran terhadap keluarga gol. komunisme dulu, saya sangat sepakat. Dosa besar Orde Baru memang tak mampu terucapkan lagi. Bahkan mereka yang dicap bagian dari keluarga, dikungkung oleh penjara kekuasaan dirumah mereka sendiri. Sungguh sangat ironi bung....

JALOE mengatakan...

Tan Malaka, H Misbah .. mereka adalah contoh kiai yg menerapkan "agama pembebasan " kali yach.. cuman untuk orde selanjut-nya kek na beloem muncul.. apa mas herdiansyah ? :D

Herdiansyah Hamzah mengatakan...

@ Jaloee : Ah, kang jaloee ngelantur ya?he...3x. Suatu saat pasti muncul kang, dan tidak hanya satu dua. Mungkin jauh lebih banyak dari pendahulunya, mengingat situasi dan keadaan hari ini yang kian memprihatinkan. Al Qur'an dan Hadits bahkan menjamin itu.....

akhatam mengatakan...

wah artkel yang bagus mas herdiansyah... terus berkarya.... aku follow kamu mas... follow balik. Thx

Herdiansyah Hamzah mengatakan...

@Akhatam : Trims mas, udah sy follow balik kok. Sering main kesini ya. Salam hangat (bukan salam hangat ala miyabi lho!he...3x).

Partisimon.Com mengatakan...

Kalau di pikir-pikir, memang antara Sosialis & komunis ada perbedaan.

Mungkin "sosialis" di sini sebenarnya sudah ada dalam masyarakat kita, yang di kenal sebagai "gotong-royong" (dalam skala kampung). Seperti saat ini, ada gempa di Padang, masyarakat di kalimantan (yang mayoritas kristen) juga turun ke jalan-jalan ngumpulin dana untuk korban gempa, dan ini saya rasa adalah suatu sikap sosialis (gotong royong), dimana sikap ini bukan impor dari negara sosialis, tapi justru adalah nilai luhur yang di turunkan oleh Nenek Moyang kaum leluhur kita.

Cuma mungkin yang mempopulerkan konsep 'komunis' dan 'sosialis' itu si Plato (kalau saya tidak salah), dan saya lupa-lupa ingat isi ideologinya, tapi setahu saya inti dari ideologi-nya ya "KEBERSAMAAN" alias gotong royong, artinya, supaya kesejahteraan bisa di capai bersama-sama.

Cuma memang kalau tidak salah plato seorang pemikir filsafat yang tidak menikah, jadi ia tidak tahu rasanya kasih sayang orang tua tdp anak, makanya ia lebih cenderung menganjurkan supaya anak-anak di pelihara oleh negara.

contoh:
Konsepnya adalah seperti dalam suatu keluarga. Misalnya kita punya saudara/i dalam keluarga sebanyak 10 orang. Mungkin, Ada yang jadi dokter, insinyur dan tukang sampah menyapu jalan. Mungkin yang jadi tukang sampah ini dulunya kurang rajin belajar (etos kerja) dan kurnag beruntung, tidak ada kesempatan datang kepadanya. Dalam situasi ini, kita sebagai saudaranya si tukang sampah ini, tentu akan berembuk dan berusaha supaya saudara kita ini juga bisa keluar dari lingkaran kemiskinannya. Karena ia saudara kita.

demikian juga konsep komunis ini (komunis = komuni = ), dimana kita tidka hanya memikirkan kesejahteraan kita, tetapi juga kesejahteraan saudara kita. Dalam hal ini, lebih luas dari lingkungan saudara, mungkin dalam sakala "kota".

Sikap plato yang anti terhadap demokrasi, kalau tidak salah bersifat "kontekstuaL", artinya karena ia kesal terhadap demokrasi pada waktu itu (suara terbanyak), dimana suara dewan saat itu telah disuap sehingga gurunya, Sacrotes di hukum mati. Itulah mengapa ia sangat tidak suka terhadap demokrasi. Mungkin saat itu, demokrasi yang di benci Plato adalah demokrasi sederhana, dimana masih banyak kekurangannya dan sangat berbeda dengan demokrasi modern saat ini.

Tapi, seperti kita ketahui bersama, demokrasi pun bisa di beli dan dimainkan, seperti saat ini, ada sinyalemen terjadinya pelemahan KPK (Komisi Pembrantasan Korupsi) dengan mencabut beberapa wewenangnya oleh anggota DPR.

Cuma, dalam perkembangan selanjutnya, ternyata ideologi komunis/ sosialis yang di cetuskan plato ternyata berkembang semakin rumit, dan di tangan seorang diktator, dapat dipakai sebagai sarana yang hebat untuk propaganda, dan setelah sang diktator mencapai keinginannya, komunisme di pakai untuk menindas rakyat, menghisap rakyat, menyelewengkan keadilan dan memperkaya diri dan kroni.

saya melihat, komunisme ibarat seperti sebuah parang, apakah bermanfaat atau berbahaya tergantung pada orang yang memakainya. Ia bisa membawa bencana seperti yang telah kita rasakan pada era orde lama dan di eropa timur, tetapi ia juga dapat membawa kemakmuran dan kesejahteraan seperti di Amerika Latin.

Saya pribadi berpendapat, tidak ada sistem yang sempurna untuk di terapkan di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat yang duniawi ini. Mungkin perlu di pikirkan untuk meramu Domokrasi dan sistem kapitalis, dengan misi sosialis dan nilai-nilai agama.

Demokrasi + Kapitalis + sosialis + agamis = Kemakmuran duniawi dan rohani.

(sorry bro kalau komment saya agak menceng dari konteks artikel .. he..he.. :) )

Demikian sedikit opini dan pendapat saya, jika ada data sejarah yang salah, mohon di luruskan, soalnya saya hanya membaca dari koran atau majalah atau blog.

Salam Jabat Erat
Partisimon.Com

Herdiansyah Hamzah mengatakan...

@Partisimon.Com : Pada prinsipnya, saya sependapat bahwa sosialisme dalam konteks sejarah perjalanan bangsa kita, sudah ada sejak dulu. Bahkan semangat sosialisme pulalah yang mendorong perlawanan terhadap kolonialisme dimana-mana. Namun selama kekuasaan Orde Baru, sosialisme dipropagandakan sebagai sesuatu yang jelek, buruk, penyakit dan lain sabagainya. Namun coba tengok cuba, venezuela, bolivia dan lainnya, yang justru mampu memeberikan kemerdekaan, kebebasan serta kesejahteraan bagi rakyat-nya di bawah semangat sosialisme ini.

Mengenai pandangan terhadap sistem yang tidak ada yang sempurna (dibagian akhir komentar), saya sepakat, justru karena ketidaksempurnaan itulah, kita harus senantiasa melakukan tindakan dan pikiran yang jauh lebih baik. Misalnya saja kapitalisme telah gagal, maka kita harus menawarkan alternatif sebagai lawan kegagalannya, yakni : sosialisme.

Terakhir, pandangan mengenai penggabungan antara sosialisme, kapitalisme, agama dan demokrasi, adalah keliru menurut subjektif saya. karena adalah hal yang tidak mugkin menggabungkan ideologi yang saling bertentangan, ibarat mustahilnya air menyatu dengan minyak.

Bung partisimon.com yang baik, sangat senang berdikusi dengan anda, sekiranya suatu waktu kita dapat bersua, tentu sangat menyenangkan...

Salam hangat selalu....

Anonim mengatakan...

saya suka postinganx...saya slalu bermimpi di sebuah esok saya terbangun dan menemukan kehidupan kita tak sekatro ini. Kita menjadi sasaran ekspansi dan dieksploitasi habis2an oleh para pemodal hebat. Dan, sosialisme mungkin menawarkan pembebasan tp mdh2an manusia2 kita yg terbiasa ortodoks dgn paham awalnya bisa dibangunkan dari pikiranx yg mungkin telah mati. Selamat berjuang tuk semua..

Posting Komentar

Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk berkunjung di BLOG saya yang katro ini. Biasakanlah berkomentar setelah Anda membaca artikel. But No Spam, No Porn....OK Bro!!!