Lawan Krisis Kapitalisme (1) Bangun blok persatuan rakyat…

Jumat, 15 Mei 2009

Krisis global yang terjadi hari ini, merupakan bukti nyata kegagalan Kapitalisme. Sistem yang telah bertahun-tahun menggerogoti rakyat ini sudah saatnya kita gantikan dengan sistem yang lebih baik, sistem yang secara prinsip mampu mengembalikan ketauladanan serta pengabdian secara utuh kepada rakyat Indonesia, dan kalimantan Timur pada khususnya. Lantas darimana kita harus memulai?. Ada beberapa hal yang harus kita lakukan hari ini;

Pertama, Menemukan Musuh Bersama. Dalam situasi dimana tingkat penghisapan begitu kuat, massa harus diberikan analisis beserta gambaran, siapa musuh yang sedang mereka hadapi. Krisis yang semakin meluas, regulasi yang tidak memihak, dan setumpuk problem lainnya, adalah pemantik juang yang ampuh dalam membangkitkan perlawanan massa. Namun persoalan yang terjadi dimasing-masing sektoral, terkadang memiliki kulit masalah yang berbeda. Misalnya saja buruh dengan problem politik upah murah, tentu berbeda cara pandang secara ekonomis dengan petani yang memiliki problem kepemilikan tanah garapan. Tuntutan juga pasti akan diarahkan pada dua bidak yang berbeda, satu diperusahaan, satunya lagi kepada tuan tanah. Akan tetapi, jika ditelaah lebih mendalam, sesungguhnya problem-problem kedua sektor ini akan mengkerucut pada satu kesimpulan, yakni praktek kebijakan Negara yang mengabdi kepada kepentingan modal.

Jika kita belajar dari sejarah perjuangan pembebasan nasional bangsa Indonesia dari kolonialisme, maka kita akan menemukan fakta, bahwa salah satu bentuk keberhasilan dalam membangun kebersamaan dan persatuan dalam mlawan penjajahan tersebut adalah adanya musuh bersama. Lantas siapa musuh bersama gerakan buruh dan rakyat miskin lainnya saat ini?. Tentu pandangan ini harus diarahkan kepada kontradiksi masyarakat Indonesia hari saat ini, yaitu adanya suatu system ekonomi yang dikuasai sepenuhnya oleh kelompok minoritas, yang kita sebut ; “Kapitalisme”. System yang bekerja dengan mendasarkan tindakannya kepada pola penghisapan terhadap kelas buruh[1]. Dalam bentuk nyatanya, system kapitalisme ini mempekernalkan dirinya dalam wajah yang lain dengan sebutan “Neo-Liberalisme”, yang pada hakikatnya merupakan system ekonomi yang berorientasi pasar besar (free market). Konsepsi pasar bebas ini tentu akan semakin membuat Negara-negara kapitalisme besar dunia, kian mengakumlasi modalnya dari hasil penjarahan dan perampokan Negara-negara dunia ketiga melalui lembaga-lembaga keuangannya, termasuk Kalmantan Timur sendiri. Pencabutan subsidi sosial masyarakat (BBM, TDL, Telepon, dll), obral murah asset kekayaan Negara, praktek politik upah murah, regulasi perundang-undangan yang merugikan rakyat, akusisi bank-bank milik Negara oleh pihak swasta asing, dll, merupakan turunan dari praktek system Neo-Liberalisme ini. Inilah musuh bersama dari Rakyat Pekerja dan kaum miskin lainnya. Ini pulalah yang harus kita lawan secara bersama-sama. Akan tetapi, menyambung dari apa yang dipaparkan sebelumnya, bahwa elit politik borjuis hari ini berlomba-lomba menyalahkan Neo-liberalisme sebagai biang keladi krisis. Wujud opurtunisme inipulalah yang harus kita lawan, baik borjuasi yang berkuasa hari ini, maupun mereka yang berpura-pura berbeda (baca ; oposisi), padahal sesungguhnya tak lebih baik.

Kedua, Melatih Kerja Persatuan. Setelah mengidentifikasi musuh rakyat hari ini, tentu tugas-tugas kita tidak terhenti begitu saja. Potensi kekuatan kelas buruh, harus mampu kita arahkan untuk menggandeng sektor lainnya dalam bangunan persatuan bersama. Disinilah makna persatuan yang sebenarnya, bahwa kelas buruh harus melakukan persenyawaan dengan sektor lain yang menopang gerakannya kedepan, baik dari sektor tani, mahasiswa, miskin kota, maupun individu yang sepakat dengan perjuangan untuk mewujudkan Sosialisme di Kalimantan Timur. Ditingkatan organ gerakan Kalimantan Timur, memiliki persoalan dalam lemahnya proses kerja bersama ini. Mustahil aka nada persatuan tanpa persenyawaan dalam kerja-kerja bersama. Persatuan tidak hanya kita artikan sebagai penggabungan unsur-unsur organ gerakan dalam sebuah wadah front atau aliansi, namun jauh dari itu, yakni terabangunnya proses kolektivitas diantara massa dari masing-masing organisasi tersebut. Inilah tugas dan kewajiban front kita kedepan dalam upaya mempererat dan memperkokoh persatuan.
(bersambung....)

[1] Nilai penghisapan yang dimaksus disini adalah selisih keuntungan yang seharusnya didapatkan oleh buruh, namun dihisap oleh pemilik modal. Karl Marx menyebut selisih keuntungan ini sebagai nilai lebih (surplus value).

2 komentar:

OB mengatakan...

Setuju,.. OB hanya bisa teriak gitu doang (abis ngga ngerti he..he..).
Sebenarnya udah lama, di Indonesia seakan-akan terjadi pembodohan tersembunyi. Hanya dengan sedikit kado, rakyat sudah gembira. Nah, inilah ciri khas orang timur murah senyum dan ramah dengan kepolosannya. Pdhal yang didapat mungkin 100x lipat. Bahkan tidak seimbang dengan penderitaan yang diterima..ngga balance..

Herdiansyah Hamzah mengatakan...

Sepakat mas, kecenderungan masyarakat Indonesia memang terlalu mudah lupa diri dengan penindasnya. Misalnya pemilu ini, dapat kaos,jam tangan, kalender, hingga muzik dangdutan, tp hanya untuk sesaat, tapi 5 tahun kemudian kembali ditindas dan dibodohi...

Posting Komentar

Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk berkunjung di BLOG saya yang katro ini. Biasakanlah berkomentar setelah Anda membaca artikel. But No Spam, No Porn....OK Bro!!!