Vonis Suu kyi : duka demokrasi Rakyat Burma

Jumat, 14 Agustus 2009

International Analysis - Aung San Suu Kyi, adalah tipikal pemimpin yang tidak kenal menyerah meski menghadapi hantaman bertubi-tubi dari rezim junta militer Nyanmar, di bawah pimpinan Jenderal Than Shwe (Penjara, cekal, pembunuhan karakter, fitnah, dll telah dialaminya sejak junta militer Nyanmar berkuasa). Meski Suu Kyi telah mengecam 20 tahun masa tahanan sejak tahun 1990, namun pengadilan Nyanmar pada hari selasa tanggal 11 Agutus 2009 kemarin, kembali menjatuhkan vonis 18 bulan tahanan rumah bagi pemimpin pro-demokrasi Burma tersebut. berdasarkan beberapa sumber berita yang saya baca, bahwa sebelum vonis 18 bulan tahanan rumah ini dijatuhkan, pengadilan Nyanmar awalnya memvonis Suu Kyi dengan hukuman penjara kerja paksa selama tiga tahun. Akan tetapi, terdapat kejadian lucu, menggelikan sekaligus menjengkelkan. Setelah lima menit reses, Menteri Dalam Negeri Myanmar memasuki ruang sidang pengadilan dan membacakan perintah khusus (special command) dari pemimpin junta militer Jenderal Senior Than Shwe. Lagi-lagi ini mengingatkan kita dengan "otoritarian era" di zaman Orde Baru dulu, dimana segala sesuatunya ditentukan oleh "si empunya" Negara, bahkan hukum-pun menjadi mainan yang mudah diutak-atik sesuai keinginan.

Vonis pengadilan selama 18 bulan bagi Suu Kyi bermula pada bulai Mei 2009 silam, dimana salah seorang warga negara Amerika memasuki rumah Suu kyi yang dikelilingi oleh danau dengan tujuan memperingatkan Suu Kyi, kemungkinan bahaya yang dihadapi. Inilah dijadikan alasan utama junta militer untuk menjatuhkan vonis hukuman baru bagi Suu Kyi, yang sesungguhnya masa tahanan 20 tahun-nya berakhir pada bulan Mei saat kejadian berlangsung. Ini merupakan tekanan politik yang secara sistematis dilancarkan oleh junta militer dengan kedok peradilan yang seakan-akan Suu Kyi bersalah. Lantas bagaimana sikap dunia internasional dengan penahanan kembali Suu Kyi ini? "sangat mengecewakan...

Sikap pengucut dewan keamanan PBB
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK-PBB) menggelar sidang di markas mereka di New York, Amerika Serikat. Sidang ini digelar dengan agenda pembahasan mengenai situasi politik Nyanmar. Namun sungguh mengecewakan, Dewan keamanan PBB hanya menyatakan "sikap keprihatinan yang serius" atas putusan sidang pengadilan junta militer Nyanmar yang memvonis 18 bulan tahanan rumah kepada tokoh pro-demokrasi, Aung San Suu Kyi. Negara-negara anggota yang memiliki hak veto, terutama Cina dan Rusia, justru lebih memilih untuk mengaburkan fakta pembungkaman Hak Asasi Manusia yang seharusnya diperjaungkan. mereka beralasan bahwa Nyanmar tetap harus diberikan hak politiknya untuk menentukan nasib dan masa depannya sendiri (self determination) tanpa ada satupun pihak yang boleh campur tangan. namun apapun alasannya, sikap Dewan Keamanan PBB ini jelas merupakan ketidaktegasan alias pengecut, mengingat masa depan Burma telah sekian lama terlunta-lunta akibat junta militer berkuasa. Pelanggaran HAM, tidak adanya kebebesan demokrasi, pembungkaman hak politik warga, dll, adalah deretan sebahagian kecil deretan panjang dosa-dosa junta militer Nyanmar.

Pemilu 2010 : satukan kekuatan kebangkitan gerakan pro-demokrasi
Vonis pengadilan 18 bulan yang dijatuhkan kepada Aung San Suu Kyi, membuat pemimpin gerakan pro-demokrasi rakyat Burma ini kecil kemungkinan untuk ikut serta dalam Pemilihan Umum (general election) yang akan digelar tahun depan. Namun ini tentu tidak akan menyempitkan perjuangan rakyat Burma demi tegakknya demokrasi. kita tentu masih ingat, bagaimana mobilisasi gerakan rakyat yang dipelopori oleh kaum "Biksu" dalam menggelar protes keras terhadap tindakan membabi buta junta militer, pada akhir tahun 2007 silam. paling tidak, hal ini membuktikan bahwa junta militer bukanlan hal yang mustahil untuk dikalahkan. Tembok raksasa serta kuatnya tekanan, akan melahirkan kekuatan perlawanan yang kuat pula. Ini menjadi logika kekuatan rakyat Burma demi tegaknya demokrasi. bahwa betapan kerasnya upaya junta militer untuk menekan Suu kyi (yang juga sekaligus pemimpin partai Liga Demokrasi Nasional-LND), hal tersebut tidak akan pernah menyurutkan semangat kaum pro-demokrasi Burma. pada pemilu 2010 nanti, gerakan pro-demokrasi Burma, harus lebih mampu mengorganisir tekanan terhadap junta militer melalui pemogokan, aksi protes dengan massa besar dan terorganisir, serta upaya dukungan solidaritas internasional yang harus lebih diperluas, temasuk rakyat indonesia sendiri.

Melalui tulisan singkat ini, saya sekaligus ingin menyampaikan dukungan sebesar-besarnya bagi perjuangan rakyat Burma dalam menegakkan kedaulatan rakyat dengan tanggung jawab besar hari ini untuk memukul mundur junta militer. Memang benar, bahwa perjuangan itu harus diletakkan kepada kemandirian dan upaya kita, bukanlah dengan cara moderat yang tidak bertanggung jawab (DK-PBB, Lobi, dll). Rakyat Burma juga harus belajar bahwa, perjuangan ini tidaklah diletakkan kepada pundak Aung San Suu Kyi semata, saatnya melahirkan Suu Kyi baru dari api kemarahan. Hidup rakyat Burma, bebaskan Aung San Suu Kyi, hancurkan junta militer, tegakkan demokrasi sepenuh-penuhnya.....

Samarinda, 14 Agustus 2009

2 komentar:

Ivan Kavalera mengatakan...

Kekuatan pro demokrasi akan menang di negerinya Aung San Suu Kyi. Kekuasaan tirani akan tergilas oleh people power Burma.

Herdiansyah Hamzah mengatakan...

Sepakat bung, hanya saja ada beberapa hal yang perlu kita pertimbangkan ; pertama, kekuatan pro-demokrasi Burma harus menyatukan kekuatan anti junta militer, terutama menjelang Pemilu 2010 nanti, kedua, solidaritas internasional adalah hal yang begitu penting saat ini untuk terus membangun spirit perlawanan disana...

Posting Komentar

Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk berkunjung di BLOG saya yang katro ini. Biasakanlah berkomentar setelah Anda membaca artikel. But No Spam, No Porn....OK Bro!!!