Neo-liberalisme : musuh kaum perempuan

Selasa, 04 September 2007

Kaum Perempuan ; Belajar dari Sejarah Perlawanannya

Delapan maret adalah hari yang cukup keramat bagi kaum perempuan diseluruh dunia. Dimana secara history’s, hari perempuan sedunia (International Women’s Day-IWD) merupakan tonggak kebangkitan kaum perempuan dalam memperjuangkan hak dan Martabatnya yang sekian lama tersingkirkan oleh buasnya tatanan sistem dalam masyarakat berkelas[1]. Di Indonesia, gaung peringatan International Womens’ Day (IWD) atau hari perempuan sedunia terbatas pada elit kelompok perempuan saja, temanyapun nyaris seragam, tentang kesejahteraan dan menolak praktek kekerasan terhadap kaum perempuan. Sementara disudut lain, jutaan kaum perempuan sama sekali tidak terusik. Di pabrik-pabrik, mereka masih saja bergulat dengan berbagai macam ekspolitasi dan penindasan.


Ironis memang. Padahal dalam sejarahnya, Ionternational Women’s Day (IWD) ini sangat monumental, awal bagi perjuangan kaum perempuan. Pertama kali diperingati pada tahun 1911 di Jerman, Austria, Denmark dan beberapa negeri di Eropa. Kenapa tanggal 8 maret yang dijadikan hari perempuan sedunia, karena pada tanggal 8 maret tahun 1848, raja Prusia (Jerman ketika itu) dihadapan massa buruh perempuan, menjanjikan berbagai kebijakan reformasi termasuk pemberian hak suara bagi kaum perempuan. Jutaan pamflet yang meyerukan aksi-aksi untuk menuntut hak suara itu disebarkan dihampir semua pelosok Prusia. Pengorganisiran dan pengorganisasian kelompok-kelompok kaum hawa ini dilakukan tiap hari. Jerman dan Austria digambarkan bagaikan lautan perempuan ketika itu. Alexandra Kollontai, aktivis perempuan radikal Rusia yang ketika itu berada di Jerman, membantu pengorganisiran dan menulis pamflet yang membantu seruan-seruan perlawanan kaum perempuan guna menuntut hak suara yang mereka kampanyekan secara luas tersebut.


Di Australia, International Women’s Day (IWD) pertama kali diperingati dengan rally di Sidney pada tanggal 25 Maret 1928. diorganisir oleh gerakan perempuan militan dengan mengangkat kesetaraan upah dan tuntutan pengurangan jam kerja yang terlalu padat ketika itu. Tuntutan persamaan kerja dan penentangan terhadap pengadilan arbitrase yang diskriminatif menjadi tuntutan pada peringatan di Melbourne pada tahun 1931.


Momentum paling besar diciptakan di Petograd, maret 1917, perempuan pekerja tekstil keluar dari pabrik dan turun kejalan mentang larangan kerja ketika pabrik Putilov ditutup. Semakin hari, jumlah massa rakyat pekerja kaum perempuan semakin membesar menggelinding bak bola salju, bergabung bersama dengan ribuan mahasiswa dan kaum buruh lainnya, tumpah ruah dijalan-jalan memenuhi seisi kota. Tuntutan buruh menyatu dengan kondisi kelaparan, tuntutan menentang kekerasan dan otokrasi, hingga mengkristal pada tuntutan penggulingan Tsar. Slogan tanah, roti[2] dan perdamiaan menggema sepanjang Petograd, kawasan pabrik terbesar di Rusia ketika itu, menjadi slogan yang menyatukan semua kepentingan, sampai Tsar terguling dan kekuasaannya yang sangat menindas. Point keberhasilan dari bangunan gerakan ini adalah bahwa untuk pertama kalinya sebuah gerakan perempuan terorganisir begitu rapinya dan bergabung dengan kelas Pekerja dalam pemberontakan dan perlawanan terhadap Tzarisme Rusia. Itu yang tidak terjadi dalam berbagai gerakan revolusi dunia lainnya. Revolusi Prancis pun melibatkan kaum perempuan dalam jumlah yang relatif besar, bedanya, gerakan itu terjadi secara spontan dan tidak terorganisir secara rapi layaknya kaum perempuan Rusia pada saat Revolusi Rusia 1917.


Penindasan kaum perempuan mempunyai akar sejarah ynag panjang. Sistem produksi kapitalis ynag menyandarkan peran kaum modal dan memposisikan kaum perempuan sebagai pihk yang paling ditindas, adalah basis persoalannya. Jadi, penindasan itu bukan berasal dari kategorisasi seksual laki-perempuan. Kategori biologis hanya dijadikan alat legitimasi untuk mengeksploitasi kaum perempuan secara ekonomi, memberi upah rendah dan diskriminasi sosial sebagai upaya menekan biaya produksi si tuan serakah kaum pemodal itu.


Perspektif Marxis memberikan kesimpulan bahwa tidak akan mungkin ada kesetaraan (Equality) di bawah sistem Kapitalisme. Berangkat dai basis analisa ini gerakan perempuan harus diletakkan. Tanpa bergabung dalam perjuangan kelas pekerja, mustahil perempuan akan menemukan pembebasannya di bawah panji-panji sosialisme.


Musuh Kaum Perempuan Hari Ini : Neo-Liberalisme

Kualitas gerakan perempuan juga sangat ditentukan oleh sisitem dan situasi politik yang melatar belakanginya. Di indonesia, semasa Orde baru ynag bercirikan kuatnya dominasi instrument Militer, tak memberi basis kemajuan rakyat khususnya bagi kemajuan kesadaran kaum perempuan. Namun sebaliknya, kuatnya dominasi politik militer dipentas kekuasaan malah semkin menjauhnya peran dan kemajuan kaum hawa tersebut dalam formasi-formasi sosial negara. Lihat saja, organisasi dihambat, buku-buku dibatasi, menjadikan kekuatan perempuan tumpul dan terisolir. Bandingkan dengan zaman tahun sebelum Orde Baru, ketika gerakan perempuan pada klimaks kemajuannya, perdebatan tentang feminisme sangat kaya, pandangan politik kaum perempuan jauh lebih maju. Bahwa satu-satunya jalan untuk menghapus penindasan perempuan adalah ikut dalam perjuangan pembebasan nasional, telah menjadi kesimpulan di era itu. Bukan lagi berkubang diperdebatan gender seperti sekarang yang tak lain hanya meyeret perempuan ke arah totalitas sebagai pengkonsumsi wacana meminjam istilah Soekarno yang sering mengkonotasikan hal tersebut bagi seseorang sebagai “Teks Book Thingker’s” yang hanya berkutat pada levelan diskursus wacana Feminisme dan perdebatan tentang posisi dan peran perempuan yang semakin termaginalkan dalam tatanan sistem sosial namun tidak pernah berusaha memecah kebuntuan gerakan perempuan dalam konteks implementasi gerakan alternatif bagi pembebasan kaum perempuan dalam perjuangannya melawan buasnya sistem kapitalisme yang berwajah Neo-liberalisme dewasa ini.

Perjuangan perempuan mestilah diletakkan pada basis pokok ynag dihadapi. Jelaslah bahwa Neo-Liberalisme merupakan hal mendasar yang harus dilawan bersama. Gelombang dunia yang mensyaratkan persaingan pasar bebas (Free Market Competition) sebagai kekuatan adalah basis perjuangan kaum perempuan. Implikasinya jelas, eksploitasi buruh yang dominan kaum perempuan akan semakin meningkat. Terbukti Di indonesia, Kenaikan BBM membuat upah nominal makin tidak sepadan kebutuhan riil, PHK menjadi hantu yang terus mengancam masa depan para pekerja. Sama halnya melempar buruh ke liang kesengsaraan yang kian parah. Dan jangan lupa, bahwa Pasa Bebas juga akan semakin memeras kaum perempuan sebagai objek komoditi.


Perjuangan utama kaum perempuan di dunia harus diletakkan pada Platform perjuangan bersama dalam penentangan Neo-liberalisme. Tuntutan lain seperti hak-hak reproduksi, hukum perkawinan dan lain-lain bukan tidak penting, tetapi merupakan tuntutan ynag bersifat sekunder. Sejarah International Women’s Day (IWD) juga memberi perspektif bahwa perjuangan kaum perempuan berhasil ketika dilakukan secara terorganisir dan menyatu dengan perjuangan kelas pekerja lainnya. Penindasan perempuan hanya akan berakhir seiring dengan berakhirnya sistem ynag menindas itu sendiri yakni hancurnya sistem Kapitalisme.

(Bersambung entah sampai kapan)

[1] Masyarakat berkelas merupakan bentuk struktur sosial negara dimana terdapat dua posisi kelas ynag saling bertentangan. Dalam masyarakat kapitalis, kelas terdiri atas kelas borjuasi/penindas dan kelas Proletar/ditindas. Akar penindasan serta pengeksploitasian kaum perempuan jelaslah disebabkan oleh adanya sebuah sistem masyarakat berkelas. Lengkapnya, baca Fredrick Enggels dalam The Origin of Family; Private Property and State.

[2] Lihat Ken Budaha Kusumandaru, “Karl Marx, Revolusi dan Sosialisme” diterbitkan oleh Resist Book cetakan 2004.

1 komentar:

PT. PENAMAS PARAMUDA mengatakan...

tulisannya keren abis coy..........
kapan bagian ke II-nya???

Posting Komentar

Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk berkunjung di BLOG saya yang katro ini. Biasakanlah berkomentar setelah Anda membaca artikel. But No Spam, No Porn....OK Bro!!!